HALOBABEL.COM – WALHI Kepulauan Bangka Belitung bersama anak muda pecinta lingkunhan melaksanakan Youth Climate Camp di Taman Hutan Raya Bukit Mangkol, Kabupaten Bangka Tengah. Tema yang diangkat adalah “Suara orang muda untuk keadilan iklim”
Agenda tersebut diikuti 30 anak muda dari berbagai komunitas peduli lingkungan. Mereka terdiri dari Bujang Skuad Bukit Mangkol, Kopassas IAIN SAS Babel, Green Generation Babel.
Hadir juga dari Green Leadership Babel, Hizbul Waton (HW) Universitas Muhammadiyah Babel, Pepeling Asih, dan Green Hickers Universitas Pertiba Pangkalpinang
“Youth Climate Camp ini merupakan ruang konsolidasi dan refleksi orang muda dalam menanggapi krisis iklim global serta berbagai aktivitas manusia yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon,”ujar Fizar, Koalisi Orang Muda untuk Keadilan Iklim, Selasa (27/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 24-25 Januari 2026 diikuti komunitas orang muda yang menuntut haknya atas keadilan lingkungan dan sumber pencemarannya.
Tidak hanya kritik terhadap kondisi lingkungan, koalisi orang muda untuk keadilan iklim juga mengusulkan kebijakan yang disusun secara kolektif sebagai langkah menuju Bangka Belitung yang Bersih, Aman, adil dan Berkelanjutan.
“Masifnya berbagai bencana ekologi di daratan sumatera menjadi bukti bahwa ancaman krisis iklim bukan lagi sekedar ancaman semu, melainkan ancaman yang sedang berlangsung saat ini,”kata Fizar.
“Kendati dipicu oleh perubahan iklim global, bencana tersebut juga diperparah oleh buruknya kebijakan lingkungan yang belum menjadikan keselamatan ekosistem dan masyarakat sebagai prioritas negara,” sambung Fizar.
Dikatakan Fizar, rangkaian kegiatan Youth Climate Camp meliputi pemaparan materi, diskusi dan penyusunan usulan kebijakan oleh kelompok.
Selain itu juga dibahas soal evaluasi kondisi lingkungan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang diharapkan sebagai jembatan untuk memperluas wawasan dan memperluas jaringan orang muda dalam menghadapi krisis iklim global.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas orang muda yang tidak hanya memahami ancaman perubahan iklim, tetapi juga siap sedia mengawal kebijakan iklim berkelanjutan,”tegasnya.
“Dalam hal ini, masa depan orang muda juga dipertaruhkan. Maka, suara orang muda sangat relevan untuk dipertimbangkan, di dengar juga diperhitungkan oleh negara dalam menetapkan kebijakan iklim,” tutup Fizar. (**)


















