HALOBABEL.COM, TOBOALI – Pengurus SPBUN Penutuk Kecamatan Lepar Pongok Kabupaten Bangka Selatan membantah kabar yang menyebut pihaknya menjual BBM Bio Solar Rp 15.000/ liter kepada seorang pengusaha.
“Mereka mendapatkan harga segitu karena BBM dari SPBUN Penutuk dalam 2 minggu terakhir belum masuk dikarenakan kapal ATAKA mengalami kerusakan di Belitung,”ujar Pengawas SPBUN Penutuk, Rada, Selasa (20/1/2026).
“Jadi dengan kelangkaan tersebut pihak Pengerit membeli di luar SPBUN Penutuk dan pastinya harga di up lagi sampai ke nelayan yang membutuhkan,”sambungnya.
Dia menjelaskan pihak SPBUN Penutuk tidak pernah menjual ke nelayan diatas harga resmi yaitu 6.800/liter.
“Jika koordinator nelayan menjual diatas harga resmi kemungkinan untuk ongkos dari SPBUN ke nelayan masing-masing desa,”jelasnya.
Dia menyayangkan adanya informasi sepihak yang mengatakan BBM jenis Bio Solar di SPBUN Penutuk diborong oleh oknum pengusaha menggunakan kartu KUSUKA.
“Itu sangat tidak benar karena penyaluran kita berdasarkan rekom yg dikeluarkan oleh Dinas Pertanian, Dinas Pangan, Dinas Perikanan bukan berdasarkan KASUKA,”ungkapnya.
Terkait berita sepihak yang sering muncul terkait SPBUN Penutuk disinyalir karena bisnis BBM yang terganggu di Kecamatan Lepar Pongok.
“Semenjak adanya SPBUN di Pelabuhan Lepar, jadi oknum tersebut berusaha mencari kesalahan dari SPBUN Penutuk sampai mengadu ke anggota DPRD Provinsi yang hanya mendengar informasi sepihak dari si pengadu,”pungkasnya.
Sementara masyarakat Desa Penutuk Kecamatan Lepar Pongok, Hendri mengatakan keberadaan SPBUN Penutuk selama ini sangat membantu masyarakat.
“Keberadaan SPBUN ini sangat membantu masyarakat. Saya bisa memastikan jika SPBUN Penutuk menjual harga BBM sesuai dengan harga pemerintah,”katanya.
Sebelumnya dalam reses anggota DPRD Babel, masyarakat nelayan Tanjung Labu Kecamatan Lepar Pongok mengeluhkan harga BBM solar bersubsidi hingga mencapai Rp15.000/liter. Harga ini melampaui harga resmi pemerintah Rp6.800/liter.
“Sudah satu minggu kami beli solar Rp15 ribu per liter. Meskipun mahal, barangnya pun sulit didapat,” ujar Nelayan Desa Tanjung Labu saat menghadiri reses Anggota DPRD Babel, Rina Tarol. (***)


















