Example floating
Example floating
Example 728x250
Uncategorized

Refleksi 2025: Apakah Running Festival Masih Menjadi Tren?

11
×

Refleksi 2025: Apakah Running Festival Masih Menjadi Tren?

Sebarkan artikel ini
Naila Salma Asyifha
Naila Salma Asyifha
Example 468x60

OLAHRAGA bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga ruang sosial untuk memperlihatkan perubahan bagi generasi Z. Hal ini terlihat menjelang akhir 2025, olahraga khususnya lari mengalami peningkatan. Ini tercermin dari meningkatnya partisipasi peserta dalam acara lari.

Sepanjang tahun 2025, acara lari banyak diselenggarakan mulai dari lari santai, fun run, hingga marathon. Kini, tren lari bukan hanya sekedar kegiatan olahraga, melainkan sudah menjadi bagian identitas dan gaya hidup.

Example 300x600

Minat olahraga lari semakin berkembang, berdasarkan data pada acara UBB Run VOL 1 tanggal 25 Mei 2025 terdapat 500 peserta, sedangkan UBB Run VOL 2 tanggal 14 Desember 2025 mengalami peningkatan hingga 830 peserta.

Mayoritas peserta berasal dari kalangan Generasi Z, mulai dari umur 15 sampai 30 tahun. Terjadinya peningkatan peserta, disebabkan oleh beberapa faktor.

Mulai dari strategi promosi dan penggunaan media sosial yang baik.
“ Pada UBB Run VOL 2 mengalami peningkatan peserta, karena kami memberikan diskon dan potongan harga bagi kategori pelajar (SD/SMP/SMA).

Hal ini mendorong banyaknya peserta yang ikut, serta merupakan salah satu bentuk promosi kampus untuk pelajar yang akan melanjutkan Pendidikan.

Selain itu, promosi melalui media sosial juga turut dilakukan agar penyebaran informasi semakin meluas hingga dapat diakses banyak massa, dan dilakukan dalam kondisi tren yang masih diminati sehingga terjadinya peningkatan,” ujar Nia Astrina Sahra Wakil Ketua Pelaksana UBB Run Vol 2 belum lama ini.

Disisi lain, tren ini merupakan ruang bagi gen Z . yang dimana keinginan mengikuti acara lari bukan hanya minat semata, melainkan FOMO ( Fear of Missing out) terhadap tren.

Tidak sedikit orang yang membagikan pencapaian di media sosial, sehingga pelari merasa terdorong untuk mengikuti acara lari.

Studi oleh Hwang dan Lee (2019) menemukan bahwa FOMO dapat menjadi motivator kuat bagi partisipasi olahraga, tetapi juga berpotensi menciptakan tekanan sosial, terutama di kalangan pelari yang ingin mempertahankan identitas mereka dalam komunitas virtual.

Namun, tidak sedikit pelari yang melakukannya karena murni keinginan sendiri tanpa adanya tekanan dari eksternal.

Biasanya, pelari seperti ini sudah terbiasa dengan kegiatan lari dan mengikuti acara dengan tujuan sebagai wadah untuk bertemu sesama kalangan pelari. Sehingga, cenderung mempunyai kesadaran akan manfaat lari bagi Kesehatan tubuh.

Berdasarkan uraian tersebut, fenomena tren lari pada gen Z dimulai dari FOMO. Adanya keinginan kuat karena melihat pencapaian orang-orang terhadap kegiatan lari, biasanya melalui platform media sosial.

Hal ini sejalan dengan temuan yang menunjukkan bahwa 73% partisipan awalnya termotivasi oleh FOMO, dengan manifestasi berupa kompetisi tidak langsung di platform digital (Strava, Garmin Connect) dan koleksi medali virtual sebagai simbol status.

Namun, penelitian juga mengidentifikasi dampak ambivalen di satu sisi meningkatkan keterlibatan olahraga, di sisi lain berpotensi menyebabkan kelelahan emosional ketika partisipasi didorong oleh tekanan sosial dari pada motivasi intrinsik.

Sementara itu, FOMO memberi pengaruh besar terhadap konsistensi. Pelari cenderung akan mendapatkan kepuasan sesaat dan mengakibatkan terhentinya konsistensi dalam berolahraga.

Hal ini menjadikannya kurang efektif, jika dijadikan motivasi dikarenakan pengaruh jangka panjang ketika kepuasan sudah didapatkan.

Dengan demikian, mengikuti acara lari baik itu karena FOMO atau minat merupakan kegiatan yang sama-sama bermanfaat. Hanya saja, jika disebabkan karena FOMO, akan mendapatkan tekanan karena keinginan untuk mendapat validasi di lingkungan sosial.

Namun, jika karena kesadaran dari diri sendiri tanpa adanya tekanan dari luar, kegiatan lari dapat menjadi salah satu cara menjaga Kesehatan tubuh.

Oleh karena itu, peningkatan minat terhadap tren lari perlu terus didukung, supaya tren ini dapat menjadi kebiasaan yang berkelanjutan dan kegiatan positif bagi investasi Kesehatan di masa depan. (***)

Penulis: Naila Salma Asyifha

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Prodi : Pendidikan Bahasa Inggris

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *