HALOBABEL.COM – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kepulauan Bangka Belitung melakukan penanaman 2.500 pohon mangrove di Pantai Penyak Duri-Bakong Batu Beriga Kecamatan Lubuk Besar, Bangka Tengah, Sabtu (20/12/2205).
Penanaman mangrove melibatkan masyarakat Batu Beriga, kelompok anak muda yang merupakan sahabat Walhi diantaranya, KOPASSAS, Green Generation dan Komunitas Vespa Bangka Belitung.
Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Kepulauan Bangka Belitung, Regi Yoga mengatakan, penanaman 2.500 pohon mangrove sebagai upaya mencegah abrasi dan banjir rob.
“Ini adalah salah-satu bentuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global yang membuat wilayah pesisir Bangka Belitung rentan terhadap ancaman seperti sedimentasi, abrasi maupun banjir rob akibat gelombang ekstrim dan rusaknya ekosistem pesisir,”ujar Regi, Minggu (21/12/2025).
Berdasarkan laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), kata Regi, suhu permukaan bumi secara global telah mengalami peningkatan sebanyak 1,1 Derajat Celcius sejak era pra industri.
Memasuki era industrialisasi dan berbagai aktivitas manusia terhadap lingkungan, mulai dari 2021 sampai 2040 mendatang, diperkirakan suhu bumi akan melewati ambang batas yakni 1,5 derajat Celcius.
“Terdapat berbagai aktivitas manusia, terutama industri yang berkontribusi terhadap peningkatan emisi GRK seperti industri energy, pertambangan, penggunaan bahan bakar untuk kendaraan sampai dengan deforestasi dan alih fungsi lahan yang menyebabkan hutan kehilangan fungsi ekologisnya sebagai penyerap karbon dan bahkan menjadi sumber emisi,” tutur Regi.
Sebagaimana diketahui, Desa Batu Beriga terletak di pesisir timur pulau Bangka, 90% masyarakat disana berprofesi dan bergantung terhadap kelestarian ekosistem laut.
Selain terancam perubahan iklim, rencana penambangan laut dan pembangunan Pembangkit listrik tenaga nuklir turut serta mengancam ruang hidup masyarakat batu beriga.
“Sulitnya memprediksi perubahan cuaca di laut memang menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan desa batu beriga. Selain itu, pemukiman kami yang berada tepat di pinggiran pesisir juga rentan abrasi,”ungkap Regi.
Sementara Nelayan Batu Beriga, Dariyus mengatakan, selain pemanasan global, ada ancaman lain yang menghantui ruang hidup masyarakat Batu Beriga.
Seperti zona tambang laut pada RZWP3K yang masih terdapat IUP PT Timah, selain it rencana pembangunan PLTN di Pulau Kelasa (Gelasa).
“Tentunya ini sangat mengancam keberlangsungan hidup nelayan dan generasi kami yang akan datang,”tegas Dariyus. (rel)


















